Tampilkan postingan dengan label pakan ikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pakan ikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juni 2012

Tehnik Pemberian Pakan Ikan Gurame

Teknik Pemberian Pakan Ikan Gurame PDF Print E-mail
Gurame merupakan ikan yang memiliki pertumbuhan agak lambat namun harganya relatif meningkat setiap saat. Gurami (Osphronemus goramy) adalah sejenis ikan air tawar yang populer dan disukai sebagai ikan konsumsi di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Gurame termasuk ikan budidaya yang butuh perhatian lebih dalam pembudidayaannya dibandingkan dengan ikan konsumsi lainnya.

Keberhasilan pembudidayaan ikan gurame dimulai dari teknik pemberian pakannya. Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan oleh pembudidaya agar pembudidayaan ikan guramenya dapat berhasil dan menghasilkan.
Pemberian pakan yang teratur dengan kualitas dan kuantitas yang tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan tubuh ikan lebih cepat. Induk–induk gurami yang sehat dan terjamin makanannya dapat dipijahkan dua kali setahun berturut-turut selama 5 tahun (www.ristek.go.id). Gurami terkenal sebagai ikan yang gerakannya lambat sehingga sering kalah bersaing dengan jenis ikan lain dalam memperebutkan makanan hewani. Jadi tak mengherankan jika pertumbuhannya tidak secepat ikan omnivora lainnya.

Untuk merangsang pertumbuhan gurami perlu diberikan pakan hewani dan nabati dalam komposisi yang ideal. Gurami tidak dapat diberi 100% pakan pabrik karena dagingnya akan menjadi lembek. Untuk memenuhi pakan nabati, bisa disediakan berbagai jenis hijauan seperti daun sente, kangkung, daun ubi kayu, tanaman air atau daun tanaman darat yang lunak dan masih muda. Jika ditambah enzim komplek, komposisi pemberian pakan  hewani dan nabati yang baik adalah 2%/kg. Berdasarkan pengalaman beberapa petani, pemberian daun sente (Alocasia machoriza), sejenis talas–talasan menunjukkan pertumbuhan yang paling baik. Pemberian pakan nabati dimulai saat benih seukuran korek atau kira-kira berumur 3,5 bulan (Agus, 2001).

Pakan diberikan berupa pelet dengan kandungan protein yang disesuaikan dengan ukuran ikan jika: a). Ukuran ikan 3–5 cm kadar proteinnya 38%, b). Ukuran ikan 5–15 cm kadar proteinnya 32% dan c). Ukuran ikan > 15 cm kadar proteinnya 28% (Badan Standardisasi Nasional, 2009).

Ransum harian pakan buatan dilakukan secara berkala dengan dosis 1–3% dari bobot biomass perhari dengan frekuensi pemberian 1–2 kali per hari yaitu pagi dan sore. Sedangkan pakan hijauan diberikan dengan dosis 1–2% dari bobot biomass perhari dengan frekuensi satu kali per hari.


Dengan patokan dosis tersebut, maka bobot pakan per hari dapat berubah seiring dengan penambahan bobot ikan dalam kolam. Penambahan bobot tersebut sering disebut dengan pertumbuhan. Besarnya pertumbuhan dapat diketahui melalui teknis sampling (mengambil beberapa ekor ikan dan menimbang bobotnya). Bobot total ikan dalam kolam adalah perkalian antara bobot rata-rata ikan yang disampling dengan jumlah ikan yang dipelihara. Penyesuaian jumlah pakan disesuaikan dengan hasil sampling bobot total ikan yang dilakukan sekali dalam dua pekan.
sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id

Kamis, 24 Mei 2012

Berbagai Jenis Pakan Ikan Arwana

berbagai jenis pakan ikan Arwana

pakan yang akan diberikan pada ikan harus dilihat jenis, sipat dan cara makan ikan tersebut. Arwana merupakan jenis ikan pemakan daging (carnivora) dan merupakan jenis ikan pemangsa (Predator), pakan yang diberikan harus berupa pakan hidup/daging.

pemberian pakan harus disesuaikan dengan lebar bukaan mulut arwana. jika arwana yang masih kecil jangan diberikan pakan yang ukurannya besar.

Jenis- jenis pakan yang biasa digunakan untuk arwana :

1. Cacing Beku/cacing darah
Cacing beku / cacing darah diberikan kepada ikan yang masih kecil. pakan ini diberikan ketika benih sudah habis kuning telurnya. kuning telur ikan merupakan pakan cadangan bagi benih sebelum benih siap untuk makan di alam.

2. Ikan kecil
ikan kecil diberikan pada arwana dapat berupa jenis ikan beunteur, ikan nilem, ikan lele, variasi ukuran ikan tersebut disesuaikan dengan besar kecilnya arwana yang akan diberi pakan dan besar kecilnya lebar bukaan mulut arwana.

3. udang tawar
udang dapat diberikan pada arwana sebagai pakan. udang dapat meningkatkan kecerahan warna arwana. sebelum diberikan kepala udang yang tajam perlu dibuang agar tidak melukai mulut dan usus arwana

4. jangkrik
Jangkrik juga dapat diberikan pada arwana, jangkrik juga dapat meningkatkan kecerahan warna arwana. jangkrik yang akan diberikan pada arwana biasanya kaki belakang yang tajam suka dibuang karena dikhawatirkan akan melukai usus dan mulut arwana.


5. Katak
Katak dapat diberikan sebagai pakan arwana, sebelum katak diberikan katak perlu direndam dahulu untuk membersihkan katak dari kotoran yang menempel.


Kamis, 26 Januari 2012

CARA PEMBUATAN PAKAN IKAN ALTERNATIF


maggots       CARA PEMBUATAN PAKAN IKAN ALTERNATIF

           
Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam proses budidaya ikan. Untuk itu diperlukan pembuatan pakan alternatif untuk meringankan ongkos produksi serta memaksimalkan keuntungan para pembudidaya ikan. Pakan alternatif dapat dibuat dari bahan hewani maupun nabati.

A.                BAHAN HEWANI
1.      TEPUNG IKAN
Bahan Baku :
Jenis ikan rucah (tidak bernilai ekonomis) yang berkadar lemak rendah dan sisa-sisa hasil pengolahan. Ikan difermentasikan menjadi bekasem untuk meningkatkan bau khas yang dapat merangsang nafsu makan ikan. Lama penyimpanan 11-12 bulan, bila lebih lama dapat ditumbuhi cendawan dan bakteri, serta dapat menurunkan kandungan lisin yang merupakan asam amino essensial yang paling essensial sampai 8 %.
Cara Pembuatan :
  1. Ikan direbus sampai masak, diwadahi karung, lalu diperas.
  2. Air perasan ditampung untuk dibuat petis/ diambil minyaknya,
  3. Ampasnya dikeringkan dan digiling menjadi tepung.

Kandungan Gizi :
Protein : 22,65 % ; lemak : 15,38 %; abu 26,65 % ; serat : 1,80 %; air : 10,72 %


2.      TEPUNG REBON DAN BENAWA

Bahan Baku :
Rebon adalah sejenis udang kecil yang merupakan bahan baku pembuatan terasi. Benawa adalah anak kepiting laut. Rebon dan benawa muncul pada awal musim hujan di sekitar muara sungai, mengerumuni benda yang terapung.
Cara Pembuatan :
  1. Bahan direbus sampai masak, diwadahi karung, lalu diperas;
  2. Ampasnya  dikeringkan dan digiling menjadi tepung.

Kandungan Gizi :
Udang Rebon : protein :59,4 % ; lemak : 3,6 % ; karbohidrat : 3,2 % ; air :21,6 %
Benawa   : protein  23,38 % ; lemak : 25,33% ; karbohidrat : 0,06 %; abu 11,41 % air : 5,43 %.



3.      TEPUNG KEPALA UDANG

Bahan Baku : Kepala Udang, limbah pada proses pengolahan udang untuk ekspor.
Cara Pembuatan :
  1. Bahan direbus, dijemur sampai kering dan digiling;
  2. Tepung diayak untuk membuang bagian-bagian yang kasar dan banyak mengandung kitin.

   Kandungan gizi : Protein : 53,74 % ; Lemak : 6,65 % ; Karbohidrat  : 0 %, abu 7, 72 % ;
                     Serat kasar = 14,61 % dan air 17,28 %.


4.      TEPUNG ANAK AYAM
Bahan Baku : anak ayam jantan dari perusahaan pembibitan ayam petelur
Cara Pembuatan:
  1. Anak- anak ayam dimatikan secara masal, bulu-bulunya dibakar dengan lampu semprot, kemudian direbus sampai kaku (setengah masak).
  2. Diangin-anginkan sampai kering dan digiling beberapa kali sampai halus. Hasil gilingan yang masih basah disebut pustadan dan dapat langsung digunakan.
  3. Pasta dapat dikeringkan dan digiling menjadi tepung.
 Kandungan gizi :
Protein : 61, 65 % ; lemak 27,30 % ; abu  ; 2,34 %; air : 8,80 %, juga mengandung hormone, enzim, vitamin dan mineral yang dapat merangsang nafsu makan dan pertumbuhan.

5.      TEPUNG DARAH
Bahan Baku :  darah, limbah dari rumah pemotongan ternak
Cara Pembuatan:Darah beku yang masih mentah dimasak dan dikeringkan, kemudian digiling menjadi tepung.
Kandungan Gizi: Protein  : 71,45 % ; lemak 0,42% ; karbohidrat : 13,12 % ; abu : 5,45 % serat ;:7,95 %  air : 5,19%. Proteinnya sukar dicerna, sehingga penggunaannya untuk ikan < 3% dan untuk udang < 5%.

6.      SILASE IKAN
Silase adalah hasil olahan cair dari bahan baku asal ikan/limbahnya.
Bahan Baku : ikan rucah dan limbah pengolahan
Cara Pembuatan:
  1. Bahan dicuci, dicincang kecil-kecil, kemudian digiling. Hasil gilingan direndam dalam larutan asam formiat 3% selama 24 jam, kemudian diperas.
  2. Air perasan ditampung dan lapisan minyak yang mengapung di lapisan atas disingkirkan.
  3. Cairan yang bebas minyak dicampur dengan ampas dan ditambah asam proponoat 1 % untuk mencegah tumbuhnya bakteri/cendawan dan menambah daya awet =- 3 bulan dengan pH =- 4,5.
  4. Bahan diperam selama 4 hari dan diaduk 3-4 kali sehari.
  5. Bahan cair yang bersifat asam dapat dicampur dengan dedak, ketela pohon/tepung jagung dengan perbandingan 1 :1, dikeringkan dan digunakan untuk campuran dalam ramuan makanan.




7.      keong-mas-3TEPUNG BEKICOT

Bahan Baku : Daging bekicot mentah dan daging bekicot rebus
Cara Pembuatan:
Daging bekicot dikeringkan lalu digiling. Untuk campuran makanan sebesar 5-15 %.
Kandungan Gizi :
 Protein : 54,29%, Lemak :4,,18 % ; Karbohidrat : 30,45 %  abu : 4,07 % ; kapur : 8,3 %
Fosfor : 20,3 % dan air 7,01 %
8.      TEPUNG CACING TANAH
Cacing dapat menggantikan tepung ikan, dapat diternak masal.
Jumlah penggunaan dalam ramuan 10-25%.
Cara Pembuatan: Cacing dikeringkan lalu digiling.
Kandungan proteinnua 72 % dan mudah diserap dinding secara khusus.



B.                BAHAN NABATI
  1. DEDAK
Bahan dedak padi ada 2, yaitu dedak halus (katul) dan dedak kasa. Dedak yang paling baik adalah dedak halus yang didapat dari proses penyosohan beras, dengan kandungan dizi : protein : 11,35 % ; lemak : 12,15 % , karbohidrat : 28,62 % . abu 10,5%, serat kasar : 24,46 % air : 10,15 %.

  1. TEPUNG AMPAS TAHU
Kandungan gizinya protein  23,55 %, lemak 5,4 % , karbohidrat 26,92 % abu 17,03 % serat kasar 16,53 % dan air 10,34%.


C.      BAHAN TAMBAHAN
  1. Vitamin dan Mineral
1.      Cara memperoleh : dari toko penjual makanan ayam (poultry shop) yang sudah dikemas dalam  bentuk premix (premix).
2.      Premix tersebut mengandung vitamin, mineral, dan asam-asam amino tertentu.
 
  1. Garam Dapur (NaCl)
1.      Fungsi : sebagai bahan pelezat (gurih), mencegah terjadinya  proses pencucian zat-zat lain yang terdapat dalam ramuan makanan ikan.
2.      Penggunaannya cukup 2 %

3.      Bahan Perekat
Contoh bahan perekat : agar-agar, gelatin, tepung terigu, tepung sagu,dll. Yang paling baik adalah tepung kanji dan tapioka.
Penggunaanya cukup 10 %.


Jumat, 30 Desember 2011

komponen protein

komponen protein :
1. Leusin
2. Isoleusin
3. Lisin
4. Treunin
5. Feni lalanin
6. Tritopan
7. Metianin
8. Valin


Komponen Protein Essensial :
1. Alanin
2. Glisin
3. Arginin
4. Prolin
5. Cistein
6. Tirosin
7. Asam Aspartat
8. Asam glotamik
9. Serin
10. Histidin

Jumat, 16 Desember 2011

ANALISIS PAKAN. Analisis Protein

2. Analisis Protein
a. Analisis Kuantitatif
- Cara Kjeldahl
Cara ini digunakan untuk menganalisis kadar protein kasar dalam bahan pakan secara tidak langsung, yaitu mengalikan hasil analisis dengan angka konversi 6,25 akan diperoleh nilai protein dalam bahan pakan. Angka 6,25 berasal dari konversi serum albumin yang biasanya mengandung 16 % nitrogen. Prinsip cara analisis Kjeldahl adalah sebagai berikut: mula-mula bahan didektrusi dengan asam sulfat pekat menggunakan katalis selenium oksikhlorida atau butiran Zn. Amonia yang terjadi ditampung dan dititrasi dengan bantuan indikator. Cara Kjeldahl umumnya dapat dibedakan atas dua cara yaitu cara makro dan semi makro. Cara makro Kjeldahl digunakan untuk contoh yang sukar dihomogenisasi dan besar contoh 1 - 3 gr, sedangkan semi makro Kjeldahl dirancang untuk contoh ukuran kecil yaitu kurang dari 300 mg dari bahan yang homogen. Cara analisis tersebut akan berhasil baik dengan asumsi nitrogen dalam bentuk ikatan N - N dan N - O dalam sampel tidak terdapat dalam jumlah yang besar.

- Cara Dumas
Prinsip cara ini ialah bahan pakan contoh dibakar dalam atmosfir CO2, dan dalam lingkungan yang mengandung cupri oksida. Semua atom karbon dan hidrogen akan diubah menjadi CO2 dan uap air, semua gas dialirkan ke dalam larutan NaOH dan dilakukan pengeringan gas. Semua gas terabsorpsi kecuali gas nitrogen, gas ini kemudian dianalisis dan diukur.

b. Analisis Kualitatif
Analisis ini dapat dilakukan secara biologis maupun kimia.

- Cara biologis :
Dilakukan dengan menggunakan hewan percobaan. Beberapa pengujian yang biasa dikerjakan dengan menggunakan cara ini yaitu :
- PER (Protein Efficiency Ratio)
- NPU (Net Protein Utilization)
- N Dp Cal (Net Dietary Protein Calories)

Nilai Biologis :
Nilai biologis merupakan harga atau jumlah fraksi nitrogen yang masuk ke dalam tubuh dan dimanfaatkan dalam proses pertumbuhan.

Daya Cerna :
Daya cerna adalah jumlah fraksi nitrogen dari bahan pakan yang dapat diserap untuk pertumbuhan.
Keseimbangan Nitrogen :
Adalah suatu analisis yang sering dilakukan untuk mengetahui keseimbangan nitrogen yang masuk dan nitrogen yang keluar dari tubuh.

Skor Asam Amino (Amino Acid Score) :
Mutu protein dapat diukur dengan menentukan jumlah asam amino pembatas dan membandingkannya dengan asam amino sejenis. Beberapa cara yang bisa dilakukan yaitu :
- Cara kromatografi kolom
- Cara HPLC (High Performance Liquid Chromatography)
- Cara Mikrobiologis
- Cara Spektrofotometrik
- Cara Kromatografi pertukaran ion
- Cara Kromatografi gas-cairan
- Cara Kromatografi lapisan tipis (TLC)

sumber : Ir. Sri Umiyati Sumeru
Dra. Suzy Anna

ANALISIS PAKAN UDANG analisis kimia karbohidrat

ANALISIS PAKAN

Ada beberapa aspek yang dapat digunakan untuk analisis pakan udang, yaitu : secara Kimia, Fisika dan Biologi.

A. ANALISIS KIMIA
1. Analisis Karbohidrat
Analisis karbohidrat dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif, yaitu berdasarkan sifat-sifat sakarida dan reaksi kimia yang spesifik.

a. Analisis Kualitatif
Karbohidrat biladireaksikan denganlarutan naftol dalam alkohol, kemudian ditambahkan H2SO4 pekat secara hati-hati, pada batas cairannya akan terbentuk furfural berwama ungu. Reaksi ini dikenal dengan reaksi Molisch yang merupakan reaksi umum dari karbohidrat.
Beberapa cara yang lain untuk analisis karbohidrat adalah dengan berbagai macam pengujian, seperti :

- Uji Antron
0,2 ml larutan contoh di dalam tabung reaksi ditambahkan larutan antron (0,2 % dalam H2SO4 pekat). Timbulnya wama hijau atau hijau kebiru-biruan menandakan adanya karbohidrat dalam larutan contoh. Uji ini sangat sensitif sehingga dapat memberikan hasil positifjika dilakukan pada kertas saring yang mengandung selulosa. Uji ini dikembangkan untuk uji kuantitatif secara colorimetric bagi glkogen, inulin dan gula dalam darah.

- Uji Bartoed
Pereaksinya terdiri dari Cupri asetat dan asam asetat. Ke dalam 5 ml pereaksi dalam tabung reaksi ditambahkan 1 ml contoh kemudian tabung reaksi ditempatkan dalam air mendidih selama 1 menit Endapan berwarna merah oranye menunjukkan adanya monosakharida dalam contoh.

- Benedict
Pereaksinya terdiri atas Cuprisulfat, natrium sitrat dan natrium karbonat. Ke dalam 5 ml pereaksi dalam tabung reaksi ditambahkan 8 tetes larutan contoh, kemudian tabung reaksi ditempatkan dalam air mendidih selama 5 menit. Timbulnya endapan wama hijau kuning atau merah oranye menunjukkan adanya gula pereduksi dalam contoh.


- Uji Orsinol Bial – HCl
Ke dalam 5 ml pereaksi ditambahkan 2 - 3 ml larutan contoh kemudian dipanaskan sampai timbul gelembung-gelembung gas ke permukaan larutan. Timbulnya endapan dan larutan berwarna hijau menandakan adanya pentosa dalam contoh.

- Uji Hayati
Pereaksinya terdiri dari garam Rochelle atau kalium natrium tartrat, gliserol dan cuprisulfat. Uji dan tanda-tanda dilakukan sama seperti uji benedict.

- Uji lodium
Larutan contoh diasamkan dengan HCl. Sementara itu dibuat larutan lodium dalam larutan KI. Larutan contoh sebanyak 1 tetes ditambahkan ke dalam larutan lodium. Timbulnya wama biru menunjukkan adanya pati dalam contoh. sedangkan wama merah menunjukkan adanya glikogen atau eritrodekstrin.

- Uji Seliwanoff
Pereaksi dibuat sebelum uji dimulai, dengan mencarnryrkan 3,5 ml resorsinol 0,5 % dengan 12 ml HCl pekat, kemudian diericerkan. Menjadi 35 ml dengan air suling uji, dilakukan dengan menambahkan 1 ml larutan contoh ke dalam 5 ml pereaksi. Kemudian ditempatkan dalam air mendidih selama 10 menit. Wama merah cherry menunjukkan adanya fruktosa dalam contoh.

- Uji Tauber
Sebanyak dua tetes larutan contoh, ditambahkan ke dalam 1 ml larutan benzidina, didihkan dan dinginkan cepat-cepat. Timbulnya warna ungu menunjukkan adanya pentosa dalam contoh.

b. Analisis Kuantitatif
Analisis ini menggunakan polarimeter, yaitu dengan memasukkan larutan gula ke dalam tabung polariskop yang tertentu panjangnya, kemudian dilihat sudut putarannya. Hal ini dilakukan karena karbohidrat mempunyai sifat dapat memutarbidang cahaya terpolarisasi ke kanan (+) dan ke kin (-) dan setiap gula mempunyaisudut putaran khas yang berbeda-beda. Misalnya sukrosa + 66,6 % dan glukosa + 90 %. Sifat inilah yang digunakan untuk analisis kuantitatif.

sumber : Ir. Sri Umiyati Sumeru
Dra. Suzy Anna

Rabu, 19 Oktober 2011

TEKNIK PRODUKSI MASSAL CACING TUBIFEX


TEKNIK PRODUKSI MASSAL CACING TUBIFEX

                Cacing Tubifex sp dikenal dengan nama cacing sutera maupun cacing rambut merupakan pakan alami yang belum tergantikan keberadaannya. Sejauh ini usaha budidaya cacing-cacing sutera belum banyak dilakukan dan hanya mengandalkan pasokan dari alam.
                Istilah produksi  massal cacing   tubifex  adalah upaya menumbuhkan dan mengembangbiakan cacing ini di dalam tempat (media) pemeliharaan yang terkontrol, berupa kubangan tanah berlumpur dan tergenang air.
TAHAPAN KEGIATAN PRODUKSI CACING TUBIFEX SP:
1.       SIAPKAN LAHAN : Lahan yang digunakan berupa saluran drainase permanen yan berukuran panjang 10 m, lebar 20 cm, dan tinggi (kedalaman ) 15 cm.
2.       PEMBUATAN MEDIA KULTUR : Bahan yang digunakan sebagai media kultur terdiri dari lumpur, pupuk kandang, dedak halus, tepung ikan serta pakan buatan. Bahan yang telah disiapkan dicampur rata dan ditaruh secara merata pada tempat kultur yang sebelumnya telah dibuatkan sekat yang terbuat dari papan sebagai penahan lumpur.
3.       MASUKKAN AIR SECARA PERLAHAN pada media kultur dengan mengalir. Media dibiarkan sampai 4 atau 5  hari untuk menghilangkan gas yang dihasilkan oleh pupuk kandang.
4.       PENEBARAN BIBIT.Bibit tubifex sebanyak 200 gr dimasukkan ke dalam ember atau baskom kemudian disiram air agar gumpalan buyar. Cacing tubifex  yang sudah  terurai ini kemudian ditebar ke seluruh permukaan di media budidaya secara merata. Seterusnya atur aliran air yang masuk ke dalam media terus dikontrol jangan sampai tempat budidaya kering atau kelebihan air.
5.       PASANG PAPAN PENUTUP di atas media kultur untuk menghindari cahaya matahari langsung.
6.       PEMELIHARAAN . Masa pemeliharaan cacing tubifex sekitar 3-4 minggu. Bila kondisi lingkungan cocok dan jumlah pakannya cukup, bibit cacing itu akan berkembang pesat dan dapat dipanen setiap 5 hari sekali.
7.       PANEN. Panen dilakukan dengan cara cacing tubifex diambil dengan tangan beserta lumpurnya. Kemudian ditaruh dalam seser larva yang halus dan dicuci di air mengalir. Dan lebih baiknya dicuci di atas media budidaya agar lumpurnya bias dimanfaatkan lagi. Cacing tubifex yang sudah dicuci tapi belum begitu bersih ditaruh di talang atau pada kotak steroform dan diisi air setinggi 2-3 mm di atas gumpalan cacing dan lumpur, dan di atasnya ditaruh kain strimin. Tutup talang atau steroform selama 2-3 jam, maka cacing akan terpisah dari lumpur dan kotoran lainnya. Selanjutnya cacing yang sudah bersih disimpan pada steroform ayang dialiri air secara terus menerus.
SUMBER : TABLOID AKUAMINA EDISI 4 TAHUN I, 22 DESEMBER 2010-4 JANUARI 2011.

Senin, 27 September 2010

Maggot Pakan Alternatif

Maggot Pakan Alternatif PDF Print E-mail

Makin ketatnya persaingan di pasar internasional telah menuntut produsen perikanan dunia untuk berlomba menghasilkan produk berkualitas terbaik dengan harga terendah. Karena itu selain tak henti melakukan pembaruan teknologi, efisiensi produksi juga kian nyaring digaungkan oleh banyak pihak, terutama dalam hal pakan. Sebab biaya pakan menyumbang sekitar 60% terhadap biaya produksi usaha perikanan budidaya.

Sampai sekarang ini, harga pakan cenderung naik dari waktu ke waktu akibat kian menipisnya ketersediaan tepung ikan sebagai bahan baku utama pakan. Lebih celaka lagi, Indonesia selama ini menggantungkan se bagian besar pemenuhan tepung ikan dari pasokan impor sehingga sulit menghindari melambungnya harga pakan.

Namun kebingungan soal pakan tidak perlu lagi dikahawtirkan lagi, Sebab putra-putri Indonesia sudah bisa menemukan bahan pengganti tepung ikan. Bahan yang dimaksud adalah maggot. Yani larva lalat bunga dari spesies Hermetia illucens (larva Black Soldier Fly) yang diproduksi melalui proses biokonversi. Biokonversi ini merupakan proses untuk mengubah bentuk dari produk yang kurang bernilai menjadi produk bernilai menggunakan agen biologi.

Maggot, Menguntungkan

Maggot memang layak jadi harapan baru di bisnis perikanan budidaya. Hasil penelitian dari Loka Riset Kemeneteriean Kelautan dan Perikanan menyebutkan, maggot memiliki kadar protein yang sama dengan tepung ikan yaitu sekitar 40-50%. Kelebihan lainnya, maggot mudah dibudidayakan secara massal dengan menggunakan bungkil kelapa sawit (Palm Kernel Meal/PKM) sebagai media tumbuh.

Tentang maggot, keberadaanya bisa ditemui hampir di seluruh dunia dengan ukuran larva sekitar 2 cm. Beberapa kelebihan belatung ini antara lain bisa mereduksi sampah organik, bisa hidup dalam toleransi pH yang cukup luas, tidak membawa atau menjadi agen penyakit, masa hidup cukup lama (± 4 minggu) dan untuk mendapatkanya tidak memerlukan teknologi tinggi,.

Sementara Black Soldier Fly (Hermentia illucens)—sang lalat—adalah serangga yang hidup di pepohonan yang berbunga. Sari bunga (madu) merupakan makanan utamanya. Siklus hidupnya selalu melakukan metamorfosa seperti kupu-kupu. Selanjutnya, si prajurit hitam yang sudah dewasa akan kawin dan selanjutnya meletakkan telurnya pada media yang memungkinan sebagai makanan bagi larvanya. Dalam waktu 2-4 hari telur akan menetas menjadi maggot kecil, selanjutnya akan bertambah besar sampai 2 cm pada umur 4 minggu. Sampai umur 2 minggu maggot masih berwarna putih dan selanjutnya warna semakin berubah menjadi kekuningan sampai hitam dan menjadi pupa pada umur ± 4 minggu. Setelah 4 minggu pupa akan menetas menjadi serangga dewasa.

Mengenai kandungan gizi maggot jika dibandingkan tepung ikan secara umum tak kalah. Maggot juga mengandung asam amino dengan kadar yang sedikit lebih rendah daripada tepung ikan. Sedangkan kandungan asam lemak linoleat (n-6) tepung maggot lebih tinggi daripada tepung ikan.

Budidaya Maggot

Saat ini budidaya maggot telah dilakukan di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi Kapasitas produksi mencapai 200-300 kg/minggu. Kapasitas ini masih bisa ditingkatkan lagi dengan peningkatan fasilitas, terutama wadah budidaya. Pengembangan budidaya maggot kini masih terus dikaji, baik terkait dengan nilai gizinya ataupun prospek pengembangan dan aplikasinya sebagai pakan ikan maupun sebagai pengganti tepung ikan.

Sebagai media tumbuh maggot dipilih bungkil kelapa sawit. Alasannya karena bahan ini mempunyai kandungan gizi yang lebih baik dibandingkan produk limbah lainnya seperti ampas tahu, ampas kecap serta ketersedianya cukup banyak dan kontinyu di Jambi.

Budidaya maggot bisa dilakukan pada skala kecil dengan menggunakan drum/baskom dan skala besar pada bak-bak yang berukuran besar yang kedap air. Fermentasi bungkil kelapa sawit menggunakan air dengan perbandingan 1 bagian bungkil kelapa sawit dengan 2 bagian air. Bungkil yang telah dicampur air dimasukan dalam tong/baskom atau bak berukuran besar dan ditempatkan di ruangan terbuka.

Agar media tidak terkena air hujan, wadah budidaya diberi atap sebagai pelindung. Disamping itu untuk memudahkan lalat Black soldier menempelkan telur maka di atas media fermentasi ditempatkan daun kering. Setelah 2-4 minggu pemeliharaan, maggot sudah bisa dipanen. Ukuran panen disesuaikan dengan bukaan mulut ikan yang akan diberi pakan maggot (jika maggot segar).

BBAT Jambi menyebutkan, bahwa untuk setiap 10 kg bungkil kelapa sawit dalam tong/baskom bisa menghasilkan 3-3,5 kg maggot. Sedangkan untuk 1 unit bak 3 x 10 m bisa menghasilkan 150 - 316 kg maggot (PKM 350-750 kg). Dengan kata lain, 1 kg maggot bisa dihasilkan dari 3 kg bungkil kelapa sawit (konversi PKM : maggot=3:1) dalam waktu 2-4 minggu.

Sayangnya, budidaya maggot ini masih terkendala pasokan sulitnya mendapatkan bungkil kelapa sawit dari pabrik. Bukan itu saja, harga bungkil sawit dari tahun ke tahun juga selalu meningkat. Jika harga ini telah menembus Rp 1.000 per kg, maka kegiatan ini menjadi tidak menguntungkan bagi pembudidaya ikan. Di sini peran pemerintah sangat diharapkan untuk menstabilkan harga bungkil kelapa sawit agar tetap di bawah Rp 1.000 per kg.

Dalam penggunaan maggot sebagai pakan ikan, bisa diberikan dalam dua cara. Yakni langsung (maggot hidup/) dan ke dua tepung maggot sebagai sumber protein pakan menggantikan tepung ikan. Penggunaan pakan maggot telah dilakukan pada beberapa ikan di BBAT Jambi. Antara lain pada ikan patin, nila merah, nila hitam, mas, toman, gabus dan arowana. Juga pada beberapa ikan konsumsi lainnya di BBPBAT Sukabumi dan ikan hias di LR-BIHAT di Depok, Jawa Barat.

Hasilnya cukup sangat memuaskan. Misalnya pada ikan patin, substitusi maggot segar dengan pakan komersial pada ikan patin jambal menunjukan bahwa benih patin jambal yang diberi pakan substitusi maggot hidup 25% dan pakan komersial 75%, menghasilkan laju pertumbuhan terbaik serta bisa menurunkan biaya pakan Rp 352 per kg ikan. Substitusi maggot masih bisa ditingkatkan sampai 35% tanpa menurunkan performan pertumbuhan dan efisiensi pakan. Sebagai sumber protein pakan pengganti tepung ikan, penggunaan protein tepung maggot sekitar 28%. Pada pembesaran ikan patin siam kebutuhan protein tepung maggot mencapai 34,7%.

Pada ikan nila merah, penggunaan maggot segar 50% ditambah pakan komersial 50% akan menghasilkan laju pertumbuhan terbaik. Selain itu bisa menurunkan biaya pakan sebesar Rp 1.819 per kg ikan. Substitusi maggot masih bisa ditingkatkan sampai 54% tanpa menurunkan performan pertumbuhan dan efisiensi pakan. Sedangkan sebagai sumber protein pengganti tepung ikan, tepung maggot bisa digunakan sebanyak 50% sebagai sumber protein pakan untuk pakan pembesaran ikan nila merah. Hasil penelitian lainnya, maggot bisa menggantikan 50% pakan komersial pada ikan lele.


sumber : http://www.perikanan-budidaya.dkp.go.id

Senin, 28 Juni 2010

CARA PINTAR BUDIDAYA CACING SUTRA

CARA PINTAR BUDIDAYA CAGING SUTRA
Worm Farming Secrets - Best Selling Guide To Worm Composting

Bentuk tubuh cacing ini menyerupai rambut dengan panjang badan antara 1-3cm dengan tubuh berwarna merah kecoklatan dengan ruas-ruas. Cacing ini hidup dengan membentuk koloni di perairan jernih yang kaya bahan organik. Cacing ini meiliki 57% protein dan 13% lemak dalam tubuhnya.


Cacing sutra merupakan hewan hermaprodit yang berkembang biak
lewat telur secara eksternal. Telur yang dibuahi oleh jantan akan membelah
menjadi dua sebelum menetas.

Bahan organik yang baik untuk digunakan oleh cacing sutra adalah
campuran antara kotoran ayam, dedak (bekatul) dan lumpur. Berikut teknik budidaya cacing sutra:

1. Persiapan Bibit
Bibit bisa dibeli dari toko ikan hias atau diambil dari alam
Note: Sebaiknya bibit cacing di karantina dahulu karena ditakutkan
membawa bakteri patogen.

2. Persiapan Media
Media perkembangan dibuat sebagai kubangan lumpur dengan ukuran 1 x 2 meter yang dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran air. Tiap tiap kubangan dibuat petakan petakan kecil ukuran 20 x 20 cm dengan tinggi bedengan atau tanggul 10 cm, antar bedengan diberi lubang dengan diameter 1 cm.

3. Pemupukan
Lahan di pupuk dengan dedak halus atau ampas tahu sebanyak 200 – 250 gr/M2 atau dengan pupuk kandang sebanyak 300 gr/ M2.

4. Fermentasi
Lahan direndam dengan air setinggi 5 cm selama 3-4 hari.

5. Penebaran Bibit
Selama Proses Budidaya lahan dialiri air dengan debit 2-5 Liter / detik

6. Tahapan Kerja Budidaya Cacing Sutra
Cacing sutra atau cacing rambut memang telah sejak lama dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif pakan ikan. Harga jual yang relatif tinggi, membuat bisnis cacing sutra cukup banyak dilirik orang.

Namun sayangnya, tidak banyak orang yang memahami teknis pembudidayaan cacing sutra ini. Berikut tahapan kerja yang harus dilakukan dalam pembudidayaan cacing sutra.

• Lahan uji coba berupa kolam tanah berukuran 8 x 1,5 m dengan kedalaman 30 cm. Dasar kolam uji coba ini hanya diisi dengan sedikit lumpur.

• Apabila matahari cukup terik, jemur kolam minimum sehari. Bersamaan dengan itu, kolam dibersihkan dari rumput atau hewan lain yang berpotensi menjadi hama bagi cacing sutra, seperti keong mas atau kijing.

. Pipa air keluar atau pipa pengeluaran dicek kekuatannya dan pastikan berfungsi dengan baik. Pipa pengeluaran ini sebaiknya terbuat dari bahan paralon berdiameter 2 inci dengan panjang sekitar 15 cm.

. Usai pengeringan dan penjemuran, usahakan kondisi dasar kolam bebas dari bebatuan dan benda-benda keras lainnya.

Hendaknya konstruksi tanah dasar kolam relatif datar atau tidak bergelombang.

. Dasar kolam diisi dengan lumpur halus yang berasal dari saluran atau kolam yang dianggap banyak mengandung bahan organik hingga ketebalan dasar lumpur mencapai 10 cm.

. Tanah dasar yang sudah ditambahi lumpur diratakan, sehingga benar-benar terlihat rata dan tidak terdapat lumpur yang keras.

. Untuk memastikannya, gunakan aliran air sebagai pengukur kedataran permukaan lumpur tersebut. Jika kondisinya benar-benar rata, berarti kedalaman air akan terlihat sama di semua bagian.

. Masukkan kotoran ayam kering sebanyak tiga karung ukuran kemasan pakan ikan, kemudian sebar secara merata dan selanjutnya bisa diaduk-aduk dengan kaki.

. Setelah dianggap datar, genangi kolam tersebut hingga kedalaman air maksimum 5 cm, sesuai panjang pipa pembuangan.

. Pasang atap peneduh untuk mencegah tumbuhnya lumut di kolam.

. Kolam yang sudah tergenang air tersebut dibiarkan selama satu minggu agar gas yang dihasilkan dari kotoran ayam hilang. Cirinya, media sudah tidak beraroma busuk lagi.

. Tebarkan 0,5 liter gumpalan cacing sutra dengan cara menyiramnya terlebih dahulu di dalam baskom agar gumpalannya buyar.

. Cacing sutra yang sudah terurai ini kemudian ditebarkan di kolam budi daya ke seluruh permukaan kolam secara merata.

. Seterusnya atur aliran air dengan pipa paralon berukuran 2/3 inci.

7. Panen
Cacing Bisa dipanen setelah 8-10 hari.

sumber : Bambang Sunarno, IN AzNA Books, 2010
informasi lainnya .........Click Here!

Sabtu, 12 Juni 2010

Jenis makanan ikan gurame

Jenis makanan ikan gurame

Ikan gurame merupakan jenis ikan pemakan tumbuhan (herbivora). Ketika pada ukuran benih ikan gurame bersipat carnivora, oleh sebab itu jenis pakan yang diberikan pada waktu gurame ukuran benih yaitu berupa kutu air (Daphnia), cacing sutra. Sipat herbivora pada ikan gurame yaitu terjadi ketika ikan gurame telah dewasa. Adapun jenis pakan yang biasa diberikan pada ikan gurame yaitu sebagai berikut :
1. Daun talas/ daun keladi
2. Daun Sente
3. Daun singkong
4. Daun kangkung
5. Daun ubi jalar
6. Daun pepaya
7. Tauge : tauge kacang hijau, tauge kacang merah, tauge dari bibit padi muda
8. Labu
9. Pakan buatan (pellet)
10. Jagung rebus
11. Dedak
12. Ampas tahu
13. Bungkil kacang

Pages